Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2025

Membicarakan Diri Sendiri #6: 10 Things I Enjoy

 Aku suka berpikir. Aku menikmati proses berpikir. Tapi bukan semua hal, cuma beberapa hal aja, kaya, misal, topik yang menarik dan unconsciously, membuat aku berpikir tanpa sadar. Kayanya aku ngga pernah berenti berpikir deh. All of sudden, ketika aku berhenti mikir, otakku rasanya kaya rumah kosong yang berdebu dan banyak sarang laba-labanya. Nah, i don't like it. Jadi aku akan selalu menemukan cara untuk berpikir dan menemukan hal yang menarik buat dipikir, walaupun kadah sesepele menyipitkan mata dan ngeliatin lampu di atas, terus mikir, "Kenapa ada lampu yang dibentuk ulir?" "Gimana cara mereka bentuknya?" dll. Aku suka makan makanan tidak sehat. Misalnya mie instan. Actually bukan karena it is mie instan, tapi aku spesificly, suka mie. Yang aku suka dari mie aalah proses makannya yang *slurpppp*. Jadi sebenernya mie nya polosan di rebus doang pun aku suka. Tempe. Oh. My. God. Kalo aku bisa, i want to marry tempe. Tempe adalah my kind of food. Enak, hambar,...

Me, Jack's Defender (Titanic Related)

Gambar
First thing first, menyamakan persepsi, We are talking about this Jack (Jack Dawson) Not him Jacks the Archer, The Prince of Heart, of The Hollow Tadi siang aku membaca ada postingan (reels) dari seorang cewe yang bilang, "Jadi cewe jangan kaya Rose di Titanic yang lebih pilih sama MOKONDO padahal punya tunangan yang bisa jamin hidup dia dan bergelimant harta" I'm like? What?!?!?!?! Apakah kita menonton TITANIC (1997) yang sama? Yang disutradarai oleh James Cameron? Yang script-nya ditulis James Cameran? Di produseri olej (again), James Cameron? Yang diperankan Kate Winslet, Leonardo Di Caprio, dan Billy Zane? Karena kalau iya, clearly, you didn't watch it right, gurl! Dan sayangnya ini bukan konten pertama yang aku baca, yang merasa heran sama Rose DeWitt Bukater yang lebih memilih Jack over Calledon Hockley. Aku juga pernah baca hal yang sama di quora dan saat bacanya aku mau nangis. Kaya ... are you serious guys? Apakah kalian yakin kalo ada di posisi Rose, kalian ...

Membicarakan Diri Sendiri #5: I'm The Villain, I'm The Witch, I'm The Dragon

Gambar
There was part of my life where I imagine myself as Cinderella. Bawang Putih. Leung Li. Snow White. Semua karakter korban  yang ada di cerita-cerita rakyat. Karena ya, simply aku merasa I did nothing tapi it feels like everyone around me which suppose to protect me malah jadi orang-orang yang "menyerang" aku. Jadi, gimana caranya aku tidak merasa aku adalah korban? I'm just a child. 9 y.o. Sesalah-salahnya aku, apasih kesalahanku? Aku bunuh orang? Aku nyiksa orang? Hard pill to swallow, kesalahanku adalah aku mengecewakan orang-orang yang sekarang aku pengen tunjuk-tunjuk sambil marah-marah dan bilang, "Siapa suruh berharap sama anak kecil!" I mean its 100% normal ketika seorang anak berharap dan berekspektasi pada orang yang lebih dewasa since mereka lebih punya pengalaman hidup (jarak kita hampir 28 tahun, bro, gurl!) dan harusnya lebih "dewasa" secara mental. But it's WEIRD, ketika orang dewasa berharap sama anak kecil yang bahkan belum baligh b...

I Should've Not

Aku sedang merasa anxious dan merasa sedang terjebak di pusaran quarter life crisis , like i mean, emmmm, aku adalah seseorang yang membuat standar hidup untuk diriku sendiri, menolak mengikuti common lifestyle template, dan secara gigih dan keras kepala, menyadadari kalau template hidup itu tidak fit in for everyone, that's why i make my own. TAPI KENAPA AKU. TETAP. MERASAKAN.QLC. Like, ew, this is weird and this is so not me coded. It feels so much wrong. Jadi, lately, aku sedang bertanya pada diriku sendiri, "apa yang sebenarnya aku mau?" Karena, it feels like i know what i want tapi somehow the horizon and the air keep whispering, "follow the template?" Should I? But the template doesn't feel right for me. It's just, it's not sejalan sama apa yang mau aku ciptakan di masa depanku. I'm thinking about dying cause dying is the best outgate from everything that doesn't feel right, actually. Dying is normal and it's fit to everyone. Everyo...

Membicarakan DIri Sendiri #4: My Future Life! (Cottagecore)

Gambar
I haven't decide what to write yet. Tapi aku agak terkejut karena malam ini laptopku sangat lancar jaya PKK tanpa kelemotan sama sekali. Suspicious. Apakah terminal lucidity  juga berlaku buat alat elektronik? Karena aku ngga mau laptopku tiba-tiba mati, ya. I'm not ready, don't go, Lepi. I love you! Lalu aku baru ingat tadi pagi sebelum aku mulai belajar mandarin, aku lihat laptopku diberakin cicak :/. Ini pertamakalinya sejak 2019 laptopku diberakin cicak, sumpah. Terus aku memikirkaan soal, apa yang bikin laptopku lemot selama ini adalah karena aku cas terus dan ngga aku matiin ya?  Judge, me, fellas. Aku tahu aku salah. Soalnya semalam laptopku aku shutdown dan aku cabut chargernya terus baru aku nyalain lagi barusan. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian purnama (sejak make Ms Teams - diuninstall), dia udah ngga lelet lagi. --- Aku bingung mau nulis apa di sini. Aku mempertimbangkan dua opsi. Tapikan apapun yang aku tulis, selalu ada kesempatan untuk menuliskan opsi ...

Membicarakan Diri Sendiri #3: Kepala Penuh

Actually , judul "Membicarakan Diri Sendiri" ini aku tulis sebagai apa ya ... sebagai sarana dan wadah buat aku untuk melakukan refleksi diri. Sebenernya this whole blog existence  ada untuk membantu aku mengenal diri sendiri dan mengurai isi kepalaku yang banyak dan amburadul sih memang, dari awal. Tapi aku agak menyadari this , "Membicarakan Diri Sendiri" ini dikhususkan secara spesifik, buat platform aku mencatat hal-hal yang aku sadari tentang diriku sendiri. Oke. Jadi kenapa aku nulis paragraf di atas itu? Karena, muncul di kepalaku so , aku butuh  untuk menuliskan itu. Here we go! Aku habis baca bukunya Jostein Gaarder, "Princess of Tales". Baru baca satu bab sih. Dan sebenarnya juga itu buku yang udah aku baca sejak 2021, cuma aku emm, saat itu aku kurang mindful aja. Momen dimana sepuluh kalipun aku baca satu halaman, kata-katanya kaya membal, mental, dan memantul di jidatku. Cuma diproses di mata aja tapi tidak terproses di otak. Jadi di 2025 ini,...

Alchemy

Persepsi awalku saat mendengar kata "alchemy", "alchemist" , "alkimia" adalah dunia sihir dan kepercayaan kuno, mirip sama kepercayaan druid dari old UK. Persepsi itu dipengaruhi sama banyak media yang mostly memakai dasar konsep alkimia dan relasinya sama kemampuan sihir-menyihir. Di Harry Potter and the Philosopher Stone, misal, ada penyihir ancient , Nicholas Flamel yang mempunyai batu bertuah, which is, adalah, produk dari alkimia. Di seri Discovery of Witches, juga, konsep alkimia dipakai buat menjelaskan "dunia" sihir dan ilmu-ilmunya. Terus juga kepercayaan ancient celtic yang kurang lebih sama, menjelaskan konsep "sihir" dengan konsep alkimia. Dari itu semua aku memahami kalo this alchemy thing itu relatable-nya sama persihiran, keajaiban, dan hal-hal yang tidak mungkin. Sampe kemudian aku baca buku klasik tulisannya Paulo Coelho, The Alchemist . Butuh waktu lama buat aku menamatkan buku itu. Bukan karena bukunya tebal, bukan ka...

Sad Boy Effect

Gambar
Sambil baca tulisan ini, aku akan sangat merekomendasikan buat siapapun yang baca ini sambil dengerin lagu ini,  Farewell Love - Faye (OST Love Between Fairy and Devil) . Karena aku juga ngetik ini sambil dengerin podcast horor + dengerin lagu ini (jangan tanya gimana, otakku memang butuh banyak stimulus untuk bisa fokus dengan lebih mudah. Aku udah lama sadar, tapi karena aku tidak pernah berusaha menyelesaikan permasalahan ini, peristiwa semacam ini jadi terus berulang, dan jujurly, aku ngga kaget. It was something expected, walaupun bukan sesuatu yang aku harapkan. Ngga kaget aja. Apakah itu? Menangisi cowo bernasib menyedihkan. Kadang aku merasa heartless tapi aku merasa juga kayanya i appeared heartless karena actually hatiku selembut bubur. Haha. Mana ada orang lembut bilang dirinya lembut. Tapi aku merasa gitu, just let me define my own self, ok! Aku inget dulu waktu kecil, sebelum aku mandi, aku tuh memeriksa lantai kamar mandi dulu apakah ada semut yang lagi mau lewat? Ata...

It's never about love, it's trust what we were looking for

Tumbuh bersama film disney romantis tentang Cinderella yang diselamatkan cinta sejati (Pangeran Tampan), Aurora yang dibangunkan cinta sejati (Pangeran Philip), dan Ariel yang mengejar cinta sejatinya (Pangeran Eric), membuat otakku membangun konsep pemahaman bahwa menemukan cinta sebagai tujuan hidup. Aku mau punya akhir bahagia kaya tokoh-tokoh disney yang aku tonton, yang menemukan orang yang dia cintai, dicintai, hidup bahagia selamanya. Orang bilang juga menikah lebih indah kalau karena cinta. Banyak orang yang rela meninggalkan semua yang mereka punya demi bisa bersama dengan orang yang mereka cintai. Tapi, konsep keindahan tentang cinta itu semakin meluntur seiring usiaku lebih dewasa, seiring berkembangnya otak dan pemahamanku.  Aku nggak yakin cinta itu sesuatu yang nyata. Dan penting. Aku percaya cinta itu ada. Dan memang sepertinya indah. Mungkin cinta itu mirip taman bunga yang menebar kewangian? Kalau ngga ada cinta dan keinginan untuk saling mengasihi di dunia ini, ya...

"Aku Cantik"

Pernah nggak sih merasa jelek? Karena aku sering. Aku pernah merasa kaya, "Ya ampun bentuk mukaku jelek banget?" "Yaampun warna kulitku ngga rata! Jelek!" "Jerawatku bikin mukaku makin jelek deh" terus "Coba kalo mukaku lebih gini atau lebih gitu". Malah kadang, "Aku merasa mukaku jelek tapi apa ya yang bikin jelek?" Pertanyaan yang terakhir itu kadang menggiring pada perasaan minder kebangetan yang bikin aku makin merasa desperate karena ngga ada yang bisa aku lakukan gitu loh (pada saat itu). Aku ngga paham skincare bahkan aku ngga bisa melakukan usaha terminimal buat memperbaiki diri. Karena apa? Karena aku bahkan ngga tau masalahnya dimana. Biasanya di tengah perasaan putus asa itu, akan muncul perasaan muak pada diri sendiri yang kemudian bikin aku (atau kita) males lihat bayangan sendiri di kaca. Karena yang dilihat tidak membuat kita senang. Sampe, di suatu malam yang gelap karena mati listrik, dengan pencahayaan lilin di kamar, ...

Membaca Buku yang Sama 1000x

Aku dulu pernah baca quotes yang bilang kalau "Nggak ada gunanya membaca buku yang sama berulang kali, akhirnya nggak akan berubah". Beser sih. Dan berdasarkan pengalaman hidupku yang nggak seberapa waktu itu, aku merasa kutipan itu benar. Nggak ada gunanya mengusahakan hal yang sama berkali-kali. Mau seberapa kalipun aku berusaha, selama orang yang sama , maka hasilnya juga akan sama. Nggak akan ada yang berubah. Karena kau membaca buku yang sama.  Tapi waktu dan pendewasaan ternyata mengubah pemikiran. Karena di 2023, bulan April, aku abca dua buku yang sama dua kali. Terus aku baca ulang dua buku itu sebanyaj dua kali lagi di bulan Septembernya. Sekali lagi di Oktobernya. Buku apakah itu? "Once Upon A Broken Heart"  dan sekuelnya, "The Ballad of Never After". Aku baca buku itu untuk pertamakalinya dan aku langsung merasa captivated . Aku baca lagi, WOW, aku menemukan komprehensi baru! Aku baca lagi, im amazed!  Aku baca lagi, baca terus, dan semakin ber...

Talking About Peeta Mellark (again)

Aku tau aku udah nulis about him like ... several times. Repeatedly. Talking about the same point. So basicly im going to do the same right now! Im on my silly girlie era. Blame Peeta for that. And Ariana Grande. And Major Lazer. Aku pasti udah pernah nulis betapa triggeringnya lagu All My Love buat aku dan per-hunger games-an ku, khususnya sama My One and Only, Peeta (for the baby) Meellark. You're always on my mind All through out the day YES. If I ever found someone like Peeta, i would definitely, willingly, ikhlasly, sacrifice my self the way Katniss did. He's a good guy y'all. And im the villain. Ngga ada ruginya hilang satu villain demi keberlangusngan hidup orang baik seperti Peeta. Kalau Peeta eksis di dunia nyata, aku rela tanganku iritasi kena eksim karena masakin buat dia tiap hari. Im willingly gatel gatel for him. Asal dia happy dan tenang. I good. Im fine. Tidak ada yang perlu dipikirkan. Walaupun aku adalah seorang villain yang berhasrat dan diciptakan buat m...

Burung yang Ingin Terbang

Aku adalah burung yang besar Sayapku gagah dan megah saat terbentang Namun ada rantai di kakiku, mencegahku untuk pergi Apa gunanya sayap megah nan gagah jika tidak digunakan semestinya? Tapi itulah aku Tiada pilihan untuk terbang, tiada juga pilihan untuk menyerah Seseorang pernah bercerita, Tentang nyala api dalam diri seseorang Namun seseorang yang sama pernah berkata Bahwa jika aku tidak mempertahankan api itu, api itu akan padam Dan diriku pun ikut hilang Orang-orang mengira, emas adalah hal paling berharga di dunia ini Orang lainnya mengira, berlian adalah yang paling mahal Yang lainnya menganggap kehidupan lebih berharga Bagiku, apa artinya hidup tanpa kebebasan menjadi diri sendiri? Mereka berkata, mahal  itu tidak terukur Mereka berkata, hal yang paling mahal bagi seseorang,  adalah hal yang paling sulit mereka dapatkan Orang miskin menganggap emas mahal Orang serakah menganggap kepuasan mahal Orang kesepian menganggap teman mahal Orang yang terkekang menganggap kebeb...

Tahanan yang Bebas

Terkadang, aku merasa yakin sepertinya aku akan terus menulis hal yang sama berulang kali. Bukan karena aku tak punya hal lain yang bisa ku tulis, tapi, satu hal ini semacam hasrat yang berulang. Bahwa aku selalu ingin lari. Aku terus memiliki perasaan untuk lari. Kadang aku merasa aku ingin lari, kadang aku merasa aku harus lari. Tidak tahu apa yang mengejarku, tapi sepertinya aku tahu. Aku hanya terus menyangkalnya. Di bayanganku, siluet diriku berlari menembus batang-batang pohon tinggi yang gelap karena cahaya yang lebih terang berasal dari balik pepohonan itu, di belakangku. Aku biasanya takut gelap, tapi kali ini aku sepertinya tidak peduli bahwa aku tengah berlari menyongsong kegelapan. Setakut-takutnya aku pada kegelapan dan dengan segala ketidak pastiannya, aku lebih takut dengan apa yang membuatku menjadi seberani ini. Sesuatu yang pasti. Pasti dan sudah pasti, benar-benar buruk. Sesuatu yang akan mengekangku selamanya jika aku sampai tertangkap. Itulah mengapa, meskipun tung...

Welcoming 2025: Goodbye 2024

Kalo 2022 terasa mendung dan 2023 terasa seperti remidial, aku akan menggambarkan kalau 2024 terasa seperti papan kanvas. Di malam penghujung tahun ini, di hari ke-366 di tahun 2024 ini, aku mau menjabarkan gimana 2024 berlangsung buat aku. Kaya yang aku bilang, 2024 rasanya kaya papan kanvas. Tapi nggak cuma sampai di situ aja. Papan kanvas 2024 itu terasa seperti corat-coret warna-warni tanpa karakter atau tema khusus. Ada hijau, ada kelabu, ada merah, biru. Semua warna, macam-macam warna bercampur jadi satu dan saling bertumpuk. Ada warna yang menyenangkan  dan nikmat. Ada juga warna yang mengingatkan sama perasaan, "Oh, seandainya warna itu nggak aku coretin di sana." Warna-warna yang aku sesali. [kembang api berisik banget] Kanvas dengan beraneka ragam corak itu terlalu nggak jelas, nano-nano, dan amburadul. Sehingga di penghujung tahun, si pelukis memutuskan untuk menonjolkan corak yang paling dominan, untuk mengingatkan dia di bertahun-tahun ke depan kalau, 2024 disimp...