Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2024

2022(?): Trigger and Trauma (+Part 2)

Aku merasa ini saat yang tepat buat ngomongin 2022, tahun yang kelabu banget buat aku. Aku juga udah merasa lebih siap daripada sebelumnya buat ngomongin tahun "Mendung" ini. Tapi jujur aku males dan ngantuk. Hehehe 2022 diawali dengan persepsiku yang udah meramalkan kalo tahun ini bakal kelabu, mendung, kaya ada awan badai yang nunggu di tepian, nunggu saat yang tepat buat akhirnya menghajar dataran dengan kilat, hujan, topan, dan apapun badai yang mungkin terjadi dan pastinya harus mengerikan. Ada yang bilang kalau mungkin 2022 betulan terealisasi semendung itu karena law of attraction . Karena aku yang udah menduga tahun itu bakalan sewaduh itu sehingga aku fokus ke waduh-waduhnya aja. But i can promise to you, all,  nggak. 2022 memang tahun terbadaiku dan aku bisa janji itu bukan karena law of attraction. Aku selalu memandang pengalaman dari dua sisi walaupun mungkin butuh waktu lebih lama buat aku untuk melihat sisi positifnya (kadang langsung kok). Lagipula, badainya 20...

Baccarat

Bau Baccarat itu menyenangkan, manis, tapi tumpul, tapi juga bergerigi tajam. Kaya suatu bidang yang sisinya ngga simetris, yang punya fungsi, tapi aku ngga tau. Pokoknya gitu. Aku habis beli deospray dan kebetulan paketnya baru aja tiba hari ini. Aku beli tiga, Baccarat, Opium Black, sama Zwitsal. Aku pernah belli yang zwitsal, baunya netral, bau bayi. Aku nyoba yang opium black. Aku pernah beli yang Baccarat, dulu banget waktu awal-awal aku nyoba deo spray. Waktu mistnya keluar, srut , keluarlah sebuah bau manis - kalo dipikir lagi mirip gula lebur yang udah mengkristal lagi - yang mengingatkan aku sama rentetan memori yang related to the smell. Memori yang udah lama terpendam(?) yang udah lama ngga aku pikirin lagi, tiba-tiba naik lagi ke permukaan kaya gelembung udara yang terjebak di dasar lilin tapi akhirnya menemukan jalan keluar saat sisi dan permukaan lilin dilelehkan. Itu bukan memori bagus. Tapi bukan juga memori yang mau aku ingat. Jujur, sejak awal aku selalu berusaha ngan...

Melangkahi Kecemasan

Karena besok aku akan melalui beberapa proses rekrutmen yang rupanya sekarang membuat aku cemas, aku jadi inget pengalaman psikotesku yang pertama, yaitu waktu aku akan masuk SD. Psikotes paling suci karena aku nggak belajar sama sekali. Aku cuma berdiri, datang, sampai, mengikuti instruksi apa adanya. Nyontek dikit, jujur. Tapi bener-bener tanpa persiapan. Sementara itu, semakin besar aku, semakin pencemas aku, rasanya ngga ada psikotes maupun ujian yang bener-bener polos dan suci yang tanpa persiapan, semuanya dilakukan dengan persiapan yang membuat ujian itu tidak sesuai fungsinya(?) Nggak pure dan apa adanya. Dibuat-buat. Sebenernya bisa jadi ini miskonsepsi, sih, tapi karena sebutannya test, ujian, bukannya fungsi seharusnya adalah untuk menguji kemampuan kita? Agak salah bukan sih kalau sebelum take the test , kita belajar dulu? Ya nggak salah juga sih karena pada dasarnya aturannya, mampu sebelum ujian dilaksanakan . Tapi ... paham ngga sih maksudku? Tapi yaudah deh mungkin ini ...

Surat untuk Ratu Cemas

Hai, Ratu Cemas,  Perempuan yang bersikap seolah segalanya baik-baik saja, padahal di balik roknya, kakinya gemetar ketakutan. Hai, Ratu Cemas, Semua orang mengira wajahnya datar karena ia sosok yang kaku padahal aslinya ia menahan napas. Hai, Ratu Cemas, Yang pikirannya penuh skenario akan hal-hal yang belum tentu terjadi. Hai, Ratu Cemas, Perempuan yang berharap untuk selalu merasa nyaman dimanapun dan kapanpun. Hai, Ratu Cemas, Yang diam-diam perutnya mulas seolah pikirannya ingin kabur bebas. Hai, Ratu Cemas, Perempuan yang bahunya paling tegang dari keseluruhan anggota tubuh lainnya. Hai, Ratu Cemas, Kenapa tidak kamu tenangkan otot-ototmu yang lemas itu? Hai, Ratu Cemas,  Apa kamu tidak lelah memaksa kakimu yang tidak mau dipaksa bertahan itu? Hai, Ratu Cemas,  Mungkin kamu hanya perlu duduk dan menarik napas? Hai Ratu Cemas,  Segalanya memang tidak pasti, padahal kau tinggal berserah diri.