"Kurang Menderita"
Sedihnya, ternyata ada standar tak terlihat untuk mendapat simpati.
Kalau kamu bukan "korban" yang sempurna: Yang berhati sebersih Cinderella dan Bawang Putih, nggak teraniaya sampai hampir mati, kamu belum bisa dianggap layak untuk mendapat simpati.
Masih bisa ketawa kan? Masih bisa jalan? Nggak pincang, nih kalau dilihat-lihat. Masih punya atap? Masih punya ini? Itu? Nyenyenye? Hidupmu masih lebih mudah daripada sebagian besar orang.
Siapa yang menetapkan standar itu? Siapa manusia aneh yang dengan percaya dirinya menjadikan standar subjektifnya sebagai standar yang juga harus diakui semua orang?
Faktanya adalah, kamu tetep bisa depresi walaupun kamu ngga bayar pajak, punya rumah, punya teman-teman yang suka merayakan eksistensimu. Kamu bisa tetap pengen mati dan bisa tetap menderita internally. Tapi karena kamu punya semua itu, nasibmu jadi sama kaya kelas menengah di negara yang menyebut dirinya berkembang: Invalidasi.
Semakin diinvalidasi, bukannya semakin ter-cuci otak kalau kamu baik-baik aja, justru realitamu akan jadi semakin berantakan karena sekarang kamu jadi mempertanyakan standar pribadimu, dan semua yang tidak terakui itu. Semakin kamu bingung, kamu akan semakin takut, lalu semakin ingin mati.
Aku bisa bilang, at least, buat aku, hidup ini terasa seperti jalan di atas parutan kelapa. Semakin dijalani dan dilanjutkan, semakin menyakitkan, tapi seolah nggak ada opsi untuk berhenti. Jeda sejenak. Nggak ada. Toh, jeda itu cuma akan bikin kamu menyadari seberapa parah lukamu karena terus berjalan di atas parutan. Perlahan-lahan tergerus. Perlahan-lahan habis. Nggak tahu kapan semuanya akan selesai, kapan penderitaan ini akan berakhir. Semua orang menyemangati kamu dan bilang, "Jangan berhenti! Jangan menyerah. Semuanya akan berakhir! Ada pelangi setelah badai!" Sementara kamu mencoba membayangkan apa yang akan tersisa nanti ketika kamu sudah sampai di ujung. Mungkin selembar tipis kulit kepala?
Nyatanya memang penderitaan ini cuma bisa dirasakan sendiri dan ngga ada siapapun yang akan mengerti karena mereka ngga jalan pake sepatu yang kita pakai.
Mungkin bisa disimpulkan kalau penderitaan memang bukan untuk dibagikan. Sekedar untuk gatau apa, bumbu hidup mungkin?