Rusli Punya Mimpi

Rusli adalah seorang anak biasa seperti anak pada umumnya. Dia tidak terlalu kecil, tidak juga terlalu besar. Tidak terlalu lincah, ataupun terlalu pendiam. Tidak terlalu cerdas, tidak juga terlalu bodoh. Singkatnya, tidak ada hal apapun yang khusus pada dirinya, yang akan membuat orang-orang langsung menengok memperhatikan.

Dia hanya anak biasa yang tumbuh di lingkungan yang juga biasa saja. Hingga, pada suatu ketika, Rusli hampir tertabrak truk. Tapi ia berhasil selamat karena Mbah Nunik menariknya tepat waktu. Waktu itu, usia Rusli baru sembilan tahun. Dengan mudahnya, orang-orang dewasa menganggapnya sebagai anak ceroboh, sementara teman-temannya menertawainya karena ketidak hati-hatiannya. Rusli juga ikut tertawa. Hanya Mbah Nunik yang punya pendapat berbeda, "Bocah iku nengah!" Ujarnya saat menyampaikan cerita versinya pada ibu Rusli. Ibu hanya tersenyum, menganggap Mbah Nunik terlalu khawatir. Mana mungkin ada orang yang membahayakan diri sendiri? Lagi pula, menurut ibu, Rusli sudah cukup besar untuk mengerti tentang hal yang berbahaya dan yang tidak. Yang paling mungkin adalah, Rusli terlalu muda untuk menyadari keadaan sekitarnya.
Dan yang ibu pikirkan benar.

Tahun demi tahun berlalu. Rusli membesar dan berkembang. Ia bukan lagi anak yang biasa-biasa saja. Ia pintar. Sangat pintar malah. Ia tahu banyak hal, terutama yang berhubungan dengan fisika dan biologi. Orang tua dan teman-temannya yakin Rusli bisa menjadi dokter, terutama karena ia sangat menguasai ilmu tentang anatomi tubuh manusia. Ia jagonya.

Membanggakannya lagi, Rusli tidak berpuas hanya dengan menguasai dua bidang dominan itu. Ia penasaran akan banyak hal dan punya keinginan untuk mencoba banyak hal. Selagi teman-temannya menjalani hidup sebagaimana manusia biasa hidup, Rusli memilih cara hidupnya sendiri. Mereka menyebutnya, anak itu sangat hidup. Karena ia memang mencoba segala hal yang terlihat menyenangkan dalam hidup ini.

Suatu hari, saat ia dan teman-temannya sedang bermain-main di pantai, Rusli memandangi sebuah pohon kelapa yang cukup tinggi dan tumbuh melengkung. Rasa penasaran Rusli yang berlebihan terhadap suatu hal bukan hal yang asing lagi bagi teman-temannya. 
"Apa yang kamu lihat dari pohon itu kali ini, Rus?" Tanya Parto.
"Tingginya," Ucap Rusli sambil meraba-raba dan mengamati batang pohon kelapa itu. "Dan kekuatan batangnya."
"Mau manjat to, kamu?" Kali ini Ilham yang bertanya.
"Iya. Menurut kalian tukang kelapa mau nggak ngajarin aku?"
"Menurutku nggak ada ruginya buat mereka kalau kamu mau belajar manjat pohon. Kecuali kalau kamu mau ikutan jual kelapa! Itu baru masalah!" Imbuh Parto. Teman-teman yang lain tergelak ketawa. 
"Tapi pertanyaanku, kalau kamu sudah bisa manjat pohon kelapa, terus kamu mau ngapain, sih, Rus?" Tanya Ilham.
"Aku akan gapai cita-citaku, Ham!" Jawab Rusli mantap.
"Jadi petani kelapa? Apa mau jadi pengusaha nata de coco?" Tanya Parto.
"Ada deh. Kalian nggak akan mengerti, menurutku." Ucap Rusli.

Setelahnya, selagi teman-temannya berburu ikan di laut, kejar-kejaran di pantai, dan bermain air, Rusli meminta petani kelapa untuk mengajarinya memanjat pohon kelapa itu. Setelah itu pun, beberapa hari setelahnya, ia terus datang ke pantai untuk belajar memanjat sampai ia benar-benar bisa. Tak lupa ia juga membawa tali pengaman supaya tidak jatuh terbanting dari ketinggian.

Sebulan lamanya Rusli menekuni ilmu memanjat pohon kelapa. Tak ada yang bertanya-tanya, tak ada yang curiga. Rusli hanya menjadi Rusli yang selalu memilik rasa ingin tahu tinggi, gigih, dan fokus pada tujuan.

Kemudian, pada akhirnya semua orang melihat tubuh Rusli tergantung tali di pohon kelapa yang melengkung itu. Seluruh desa heboh atas nasib naas yang menimpanya. Saat jenazah itu dimandikan, di kantong pakaiannya, ditemukan sebuah kertas:

Kalau ini berhasil, akhirnya aku bisa merasa tenang.


Postingan populer dari blog ini

My Twilight Girlie Era Is Back!

Nyatanya, Keputusan Bukan Soal Pilihan, tapi Soal Risiko Mana yang Lebih Bisa Kita Terima