Synesthesia Experience : Grapheme Synesthesia
Selama ini, seengganya sampai aku SMA kelas 10, aku selalu ngira kalau semua orang emang punya warna sendiri dalam beberapa aspek kehidupannya. Misalnya, aku selalu punya 'warna' buat beberapa angka, huruf, kata, hari, bulan, semacam itu. Itu muncul aja gitu tiba-tiba, aku juga ngga sadar selama waktu-waktu tertentu. Paling kerasa ya cuma pas belajar aja, misal lagi belajar IPS (waktu SD) dan aku baca nama Van De Bosch. Aku lebih gampang ingat dia orang Belanda, karena namanya biru. Dan Belanda juga biru. Aku ngga tau kenapa ya. Mungkin karena huruf 'B' itu fit sama warna biru. Tapi ketika berdiri sendiri sebagai huruf 'B' kadang warnanya beda. Misalnya lagi, ketika ulangan, aku nggak suka nilai 100. Alasannya? Warnanya putih. Orang-orang nggak akan ngerti kenapa bisa angka 100 warnanya putih, tapi inside of my head, it's color is WHITE. Aku juga suka bingung sih karena kadang angka 1 itu bisa merah - ya walaupun memang paling fit sama warna putih sih - dan angka 0 sebenarnya lebih ke hitam atau abu-abu. Contohnya aja ya kaya gitu.
Selama ini aku pikir semua orang kaya gitu cuma mungkin mereka punya warna yang berbeda aja sama aku. Dan persepsi ini tu makin banter ketika aku kelas 10. Karena paling banter ini jugalah aku jadi tau kalo, orang-orang tu nggak kaya gitu. Cuma aku. Aku doang - di circle-ku.
Bermula ketika mau ngerjain tugas kelompok. Temen aku nanya, "mau ngerjain tugas kapan?" Aku diem sambil mikir, "Sabtu aja." Dan dia nanya dong, "Kenapa Sabtu? Biar ada yang nganter?" Ya aku jawab, "Karena Sabtu biru muda. Aku lagi suka biru muda. Sama Sabtu besok tanggal 11. Tanggal sebelaskan warna putih. Cocok aja." Dia diem, ngeliatin aku. "Hah, gimana?" Dan aku jawab. "Iya.. biru muda." Dan ketika itulah aku tau nggak semua orang kaya aku. I mean, selama ini aku ngiranya mereka cuma punya warna yang beda aja. Ternyata engga. Mereka bener-bener nggatau.
Sebenernya, kaya gini ngga cuma terjadi sekali. Waktu aku SMP, aku pernah ngobrol sama temenku, "Aku nggak suka deh lihat jadwal. Masa matematika dulu, bahasa indonesia, baru sains. Padahal kan biar kaya pelangi harusnya bahasa indonesia dulu baru matematikanya terkhir." Terus temenku cuma ketawa, "Gimana gimana?" Aku jawab, "Iyakan matematika tu biru. Kalau dia di atas jadinya urutannya biru-merah-kuning. Jelek." Dia ketawa aja. Jadi aku ngga mikir kalo aku aneh - unik. Dan yang kaya gini juga sering banget terjadi waktu aku SD. Tapi sama kaya temen-temenku SMP mereka ketawa aja dan nganggep ini cuma imajinasiku aja. Karena, yaa, aku anaknya emang bisa dibilang agak imajinatif fantasi gitu sih.
Paling nyakitin adalah waktu kuliah. Tapi sebelum aku cerita tentang kuliah, kita mundur beberapa waktu ke saat aku masih kelas 11. Waktu aku kelas 11, pernah sekilas lihat postingannya Wow Fakta tentang sinestesia, kemampuan melihat warna. Di situkan aku udah tau ya kalau aku tu agak beda gitu dari yang lain. Jadi aku waktu baca caption postingan itu jadi kaya yang, "IM NOT ALONE!!!" kegirangan gitu deh. Langsung browsing segala macem artikel berbahasa Indonesia tentang sinestesia. Banyak - lumayan sih. Tapi rasanya ngga bisa memenuhi rasa penasaran dan ngga bisa jawab pertanyaan di kepalaku gitu. Ada yang kurang. Aku cari penelitiannya (waktu itu aku ngga mengenal jurnal penelitian) dan aku ngga nemu yang 'pas'. Apalagi kebanyakan berbahasa inggris yang mana jelas musingin banget buat aku yang cuma pernah baca novel bahasa inggris sekali-kali aja. Apalagi baca jurnal ilmiah brou. Baru sampe abstrak aja yang di kepalaku : Abstrak (?) Tidak jelas? Iya emang abstrak ngga jelas kaya ini aku ngga ngerti, gitu saat itu
Nah, masuk ke perkuliahan. Udah mulai kenal jurnal, artikel ilmiah, buku blablabla.. pokoknya udah mulai nggak bergantung sama 'artikel' biasa yang ada di internet dan lebih yakin sama artikel penelitian. Cuma ya.. aku masih kurang bisa memahami jurnal bahasa inggris. Masi semester 1. Waktu itu matakuliah Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja lagi masuk materi tentang perkembangan anak tentang Teorinya Piaget. Materinya tentang skema, persepsi, memori.. gitu-gituan deh. Nah, aku beraniin diri nanya tentang sinestesia. Dan dosenku bingung. Itu apa? Karena emang belum adakan penelitiannya di Indonesia -setauku. Aku bilang, aku belum pernah baca jurnal ilmiahnya, tapi aku pernah baca artikel tentang beberapa orang yang bisa melihat suara sebagai warna, angka, huruf, dan lain-lain. Dosenku keliatannya mau diskusi, tapi emang akunya yang nggak pede duluan dan ngrasa aku ini aneh dan segala macemnya, jadi malah nggak bisa jelasin, jadi bingung. Terus ada temen sekelas yang nanya, "Gimana? Ngeliat warna? Gua juga bisa liat warna." Terus aku jelasin lagi ke dosen, "Iya, Bu, jadi saya lihatnya misal angka satu itu putih. Di kertas warnanya hitam, tapi di kepala warnanya putih." Terus dosen aku, "Mungkin bisa ya kita bahas lain kali, sekarang kita bahas yang ini dulu (materi)." Terus percakapan end. Dan temen aku yang tadi nimbrung itu bilang, "Apasih? Halu? Kamu halu? Kamu halu kali." FYI aja buat kamu temen sekelasku yang bilang aku halu, aku udah ga pede dan kamu bilang aku halu. Ngatain orang halu aja udah nyakitin ya!!! (maaf curhat).
Terus, kebetulan banget dua hari lalu dosenku ngasih pengumuman kalau PKKMB ngundang dosen dari luar dengan tema presentasi Lie Detection dan boleh banget buat yang mau join boleh join. Dan aku join 🐹. Pas aku baca PPT nya yang dishare, "astaghfirullah, mudeng dikit tapi banyak ngga ngertinya." Habis itu aku baca aja explanation brief nya beliau dan... di paragraf-paragraf akhir disebutin dong kalau dia pernah ikut penelitian tentang persepsi, tantang sinestesia. Langsung excited banget. Saat itu juga aku search jurnal penelitiannya : Dynamic Phenomenology Grapheme-color Synesthesia. WOW. Bahasa Inggris, aku usahain baca. Dan ngerti alhamdulillahnya. Sambil baca sambil, "Ih aku," "IH AKU JUGA GITU", "Ih warnanya sama". Dan pas sesi tanya jawab, aku sebenernya ngirim pertanyaan tentang Lie Detector sama tentang synesthesia juga, tapi ngga ditanyain sama dosen moderatornya, jadi diizinkan buat yang mau nanya-nanya boleh send email ke dosen tersebut aja. Walaupun emailnya ngga di share juga sebenernya sama dosenku, tapi karena excited-nya aku jadi aku cari aja di google. Well, kayanya kalau emailnya bisa diakses dengan mudah, kemungkinan beliau mau kan ngrespon email? Jadi aku kirim dan nanya lewat email sesopan mungkin sambil cerita-cerita. Make bahasa inggris tentunya walaupun belepotan, DAN DIJAWAB.
Pas ada notif emailku di jawab, rasanya seneng banget, pengen nangis guling-guling karena seneng. Dan ngga berani buka emailnya karena BINGUNG mau jawab apa selain makasi. OMG, aku happy banget rasanya kemarin. Bayangin, ngechat whatsapp dosen sendiri, di read aja alhamdulillah ya, apalagi di jawab. Dan ini dosen dari luar yang udah neliti sampai kemana-mana, punya spesialisasi khusus, jurnalnya udah jadi jurnal internasional, dan segala macemnya, MAU JAWAB EMAILKU. Berasa penting ngga sih di notice orang penting?
Buat bapaknya, saya tau nggak mungkin Bapaknya mampir ke blog absurd ini, tapi - penelitian Anda dan jawaban email Anda sangat berguna dan berpengaruh banget buat saya. Dengan Anda bialng kalau 'kurang mungkin' ada orang yang pura-pura sinestesia karena untuk orang 'normal' aja membayangkan bisa mempersepsikan warna aja udah hampir nggak mungkin dan aneh banget. Udah bikin aku pede dan percaya sama diri sendiri kalau aku ngga cuma sekedar berkhayal, berimajinasi, atau halu aja. Dan mem-validasi kalau yang aku alami ini real. Thanks a lot. You help me.
Asal tau aja, sejujurnya aku udah nyaris frustasi banget sama diri sendiri. Karena ya.. aku sendiri udah bingung ada apa dengan diriku lalu temanku secara terang-terangan bilang kalau aku halu, itu udah nyakitin plus musingin banget. Udah pusing tambah dikatain malah jadi frustasi. Udahlah aku udah hampir ngga percaya aja gitu sama diri sendiri. Aku bahkan hampir nganggep aku juga halu walaupun di sisi lain aku yakin aku ngga halu karena emang ada penelitiannya. Cuma ya karena aku masih bingung jadi aku ngga bisa melabel diriku sendiri dengan hal tersebut gitu loh. ifykwim.
Sebenernya aku sendiri ngga merasa ini sesuatu yang wow banget. Tapi, mungkin kalau diasah dan dilatih bisa aja kali ya jadi 'wow'. Dan, aku cuma seneng aja menjadi bagian dari 2 s.d 5 % manusia di dunia
Reminder aja buat orang-orang, sekaligus diri sendiri,
Yang kalian ngga tau, yang kalian ngga liat, yang kalian ngga rasakan,
itu bukan berarti nggak ada.
Feel free to share your story ♡