Mungkin, Itu Caranya untuk Tetap Hidup

    "Boleh nggak aku pinjem uang?"

    "Lagi?" Suara di seberang telepon tidak menjawab. "Bukannya kemarin kamu baru aja balikin ke Rania, ya?"

    "Kok kamu tau? Kalian ngomongin aku di belakang?" Tanya suara Aura yang terdengar berat dan serak.

    "Yaiyalah, Ra. Pasti kita ngomongin kamu. Kamu ada masalah apa gimana sih, Ra? Kenapa jadi sering pinjem duit gini? Kamu daftar paylater ya?" Tuduh Daven.

    "Bukan, Ven."

    "Terus?"

    "Ya pengen pinjem uang aja." 

Daven heran. Ia pernah mendengar kasus orang yang punya kelainan hobi mencuri dan berbohong, tapi berhutang? 

    "Yang bener aja, kocak Lu." Tanggap Daven. Aura hanya menghela napas. Disela-sela helaan napas itu, Daven bisa mendengar suara ingus yang dihirup.

    "Kamu nangis, Ra?" Tanya Daven. 

    "Hmm." Jawab Aura singkat.

    "Mau cerita?" Daven menawarkan.

    "Nggak tau, Ven. Aku ngga merasa akan ada yang ngerti."

    "Coba aja dulu."

  Di seberang telepon, Aura menggelengkan kepalanya. "Kamu tau keju?" tanyanya.

    "Taulah." Daven menatap handphone di tangannya dengan heran. Ini anak kenapa, sih?

    "Pernah nggak terpikirkan di kepala kamu, siapa tau keju yang kamu parut itu kesakitan dan nangis berharap kegiatan memarutmu buruan selesai?"

  Daven mengernyitkan dahinya, bingung. Nggak. Jawabannya enggak. Ngapain mikir perasaan keju, yang benda mati, saat di parut? Ngapain? Daven belum sempat menjawab saat Aura berkata, "Nggak ngerti maksud aku, kan? Iya itu kenapa aku ngga cerita ke siapa-siapa."

    "Gini, Ra, nggak semua orang paham analogi yang kamu buat."

    "Bener, Ven. Mungkin emang belum waktunya ada yang ngerti. Tapi akan ada masanya kalian semua bakal ngerti. When finally everything make sense."

    "Kamu kenapa sih?"

    "Nggak. Yaudah, Ven, kalau ngga bisa pinjemin aku uang. Makasih yaa." Lalu telepon diputus tanpa ada basa-basi apapun lagi.


Hari menjelang sore, sembilan belas panggilan telepon tak terjawab terpampang di layar HP Daven yang ketiduran seharian. Saat akhirnya ia membuka WhatsApp, tiga ratus pesan masuk yang belum dibaca mengganggunya, membuatnya kehilangan minat untuk mencari tahu. Lalu ia beralih ke status dimana berjajar-jajar, ia melihat banyak teman-temannya memosting postingan yang sama. Dan saat ia lihat, di sana terpampang foto wajah salah satu sahabatnya, Aurani Dhani Savira disertai tulisan:

SELAMAT JALAN

dan

SEMOGA ALMARHUMAH TENANG DI SISI-NYA

Dengan gemetar, ia akhirnya membuka 300 pesan masuk di chat grupnya dimana di sana pun Aura merupakan anggotanya. 

Daven melirik jam di pojok kiri layar HPnya. Baru empat jam lalu Aura bertelepon dengannya. Tidak mungkin kan...?

"Guys, Aura ..."

"Daven belum bisa dihubungin ..."

"Surat bunuh diri ..."

"Nenggelamin diri di waduk ..."

"... tasnya ditemuin penuh batu ..."

"Masalah keuangan?"

"Bukan ... di suratnya ..."

Aku bersyukur punya teman-temanku yang sampai sekarang masih mau meminjamkan aku uang. Tanpa kalian, aku udah menyerah dari lama. Jangan salahin diri kalian, mungkin emang udah waktunya aku istirahat.

Ternyata aku bukan takut mati. Aku takut hidup dan aku takut dosa.

Hutang-hutangku, penyambung hidupku.
Aku cuma butuh alasan untuk tetap bertahan hidup.

Daven tahu bukan salahnya.

Tapi ia tidak akan pernah bisa mengeliminasi dirinya dari rasa bersalah selamanya.

Hutangnya Aura, bukan masalahnya, tapi penyambung hidupnya. 

Postingan populer dari blog ini

My Twilight Girlie Era Is Back!

Synesthesia Experience : Grapheme Synesthesia

Sebuah Surat untuk Teman Seperjalanan dalam Jalan Perjuangan